Pemerintah Pusat, tampaknya benar-benar tak serius ingin mengurus negeri ini. Tak ada masalah yang benar-benar terselesaikan. Belum usai cerita Century, muncul lagi kasus Gayus,setelah itu muncul lagi kasus Nazaruddin dan kasus-kasus lain yang sampai hari ini endingnya mengambang. Bagaikan (maaf) tai di sungai.
Leletnya gerak pemerintah, diperparah lagi dengan upaya-upaya menutup luberan masalah tersebut dengan isu-isu baru. Salah satunya masalah Camar Bulan. Permasalahan tersebut, sebenarnya sudah terjadi sejak dahulu. Hanya, ada indikasi sengaja diendapkan.
Opini ini bukan sekedar pemikiran mengada-ngada penulis. Berdasarkan penelusuran di lapangan dan kajian-diskusi dengan aktivis mahasiswa, disimpulkan bahwa permasalahan yang terjadi di Camar Bulan saat ini memang sengaja dibuat ada. Hal ini dilakukan agar kasus-kasus besar yang sedang terjadi dapat sedikit demi sedikit dilipakan masyarakat.
Isu tapal batas Camar Bulan hanyalah cara busuk pemerintah agar masyarakat lupa bahwa saat ini pemerintahan SBY sedang dalam posisi yang buruk. Korupsi dilakukan oleh orang yang berada dalam lingkar kekuasaan, Reshuffle kabinet yang sedikit banyak akan mempengaruhi hubungan antar partai yang menjadi "kontraktor." Serta beragam masalah yang lain.
Hal ini juga dilakukan SBY pada masa pemerintahan pertamanya. Lima tahun lalu tepatnya. Pemerintah dengan segala daya upaya, membuat isu bahwa Gosong Niger dicaplok, Gosong Niger direbut Malaysia dan beragam bahasa lain yang intinya membuat masyarakat kalut, lalu lupa dengan permasalahan yang sedang dihadapi saat itu.
Jika memang demikian, maka Pemerintah Pusat untuk kesekian kalinya menjadikan daerah sebagai mainan. Permasalahan daerah hanya akan dijadikan alat memperbaiki citra diri. Daerah hanya akan jadi tambang uang negara, lalu dihempaskan, dibuang ke lumpur bekas tambang.
Sebuah upaya konkrit harus dilakukan. Jika memang Pemerintah tak mampu lagi mengelola negara ini atau tak punya keinginan yang kuat untuk mensejahterakan rakyat, maka berikanlah kesempatan kepada rakyat untuk memilih. Tetap bernegara Indonesia atau biarkan mereka lepas. Biarkan mereka mengurusi kesejahteraannya masing-masing. Atau silakan saja jika ingin bergabung dengan negara lain, jika itu bisa membuat masyarakat sejahtera.
Bukankah kecintaan kita terhadap Indonesia tak sekedar menjadi bagian negri ini..... Toh orang bijak berkata, "cinta tak harus memiliki". Melihat yang dicintai bahagia dengan orang lain, maka kita juga turut bahagia. Daripada dimiliki, namun ia merasa dihina dan terinjak.
So, haruskah tetap berbendera Merah-Putih ?
Leletnya gerak pemerintah, diperparah lagi dengan upaya-upaya menutup luberan masalah tersebut dengan isu-isu baru. Salah satunya masalah Camar Bulan. Permasalahan tersebut, sebenarnya sudah terjadi sejak dahulu. Hanya, ada indikasi sengaja diendapkan.
Opini ini bukan sekedar pemikiran mengada-ngada penulis. Berdasarkan penelusuran di lapangan dan kajian-diskusi dengan aktivis mahasiswa, disimpulkan bahwa permasalahan yang terjadi di Camar Bulan saat ini memang sengaja dibuat ada. Hal ini dilakukan agar kasus-kasus besar yang sedang terjadi dapat sedikit demi sedikit dilipakan masyarakat.
Isu tapal batas Camar Bulan hanyalah cara busuk pemerintah agar masyarakat lupa bahwa saat ini pemerintahan SBY sedang dalam posisi yang buruk. Korupsi dilakukan oleh orang yang berada dalam lingkar kekuasaan, Reshuffle kabinet yang sedikit banyak akan mempengaruhi hubungan antar partai yang menjadi "kontraktor." Serta beragam masalah yang lain.
Hal ini juga dilakukan SBY pada masa pemerintahan pertamanya. Lima tahun lalu tepatnya. Pemerintah dengan segala daya upaya, membuat isu bahwa Gosong Niger dicaplok, Gosong Niger direbut Malaysia dan beragam bahasa lain yang intinya membuat masyarakat kalut, lalu lupa dengan permasalahan yang sedang dihadapi saat itu.
Jika memang demikian, maka Pemerintah Pusat untuk kesekian kalinya menjadikan daerah sebagai mainan. Permasalahan daerah hanya akan dijadikan alat memperbaiki citra diri. Daerah hanya akan jadi tambang uang negara, lalu dihempaskan, dibuang ke lumpur bekas tambang.
Sebuah upaya konkrit harus dilakukan. Jika memang Pemerintah tak mampu lagi mengelola negara ini atau tak punya keinginan yang kuat untuk mensejahterakan rakyat, maka berikanlah kesempatan kepada rakyat untuk memilih. Tetap bernegara Indonesia atau biarkan mereka lepas. Biarkan mereka mengurusi kesejahteraannya masing-masing. Atau silakan saja jika ingin bergabung dengan negara lain, jika itu bisa membuat masyarakat sejahtera.
Bukankah kecintaan kita terhadap Indonesia tak sekedar menjadi bagian negri ini..... Toh orang bijak berkata, "cinta tak harus memiliki". Melihat yang dicintai bahagia dengan orang lain, maka kita juga turut bahagia. Daripada dimiliki, namun ia merasa dihina dan terinjak.
So, haruskah tetap berbendera Merah-Putih ?